ANALISA PRAKTIK SWAMEDIKASI DI KOTA BENGKULU

  • AVRILYA IQORANNY SUSILO PRODI FARMASI POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN BENGKULU
  • RESVA MEINISASTI PRODI FARMASI POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN BENGKULU
Keywords: Swamedikasi, Apotek, Kota Bengkulu

Abstract

Praktik swamedikasi merupakan praktik penggunaan obat-obatan pada seseorang untuk mengobati gejala atau gangguan kesehatan yang didiagnosis sendiri atau berdasarkan keluhan gejala yang pernah dirasakan di masa lampau. Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa lebih dari 60% masyarakat di Indonesia melakukan pengobatan sendiri. Praktik swamedikasi ini jika dilakukan dengan benar dapat mengurangi beban pemerintah dalam pelayanan kesehatan di sarana pelayanan kesehatan. Akan tetapi, praktik swamedikasi yang dilakukan tidak tepat dapat menimbulkan resiko tidak tercapainya efek kesembuhan yang diinginkan pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi pelaksanaan praktik swamedikasi di masyarakat Kota Bengkulu. Penelitian deskriptif ini menggunakan desain cross sectional dengan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling. Berdasarkan perhitungan jumlah sampel, diperoleh sebanyak 200 responden di Kota Bengkulu yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data dilakukan dengan analisa univariat dan bivariat dengan menggunakan uji Chi Square dengan taraf signifikasi (0,05). Dari hasil analisa univariat diperoleh distribusi demografi responden berusia antara 20-39 tahun (54,5%), berjenis kelamin wanita (64%) dan sudah menikah (77,5%). Dalam aspek pelayanan kesehatan, kepemilikan asuransi kesehatan (83%). Praktik swamedikasi dilakukan untuk mengatasi keluhan nyeri (22%), alasan melakukan swamedikasi karena penyakit yang dialami kategori ringan (41,5%), jangka waktu keluhan sakit yang dirasakan yaitu kurang dari 3 hari (77,5%), tingkat keparahan sakit yang dirasakan ringan (76%), jangka waktu penggunaan obat 1-3 hari (77%), sumber informasi obat yang digunakan adalah dari resep dokter (38,5), sumber informasi pemakaian obat adalah tenaga farmasi di apotik (68,5), rata-rata kunjungan ke apotek dalam 1 bulan adalah 1 kali (43%) dan tempat memperoleh obat selain di apotek adalah toko obat (63%). Hasil analisis hubungan antara variabel dependen dan variabel independen diperoleh hasil bahwa ada hubungan variabel umur (p=0,03), jenis kelamin (p=0,043) dan keparahan penyakit (p=0,014) dengan praktek swamedikasi di Kota  Bengkulu. Sedangkan variabel Status Pernikahan, pendidikan, pekerjaan, jarak rumah, lama sakit, kepemilikan BPJS, lama penggunaan obat menunjukkan tidak ada hubungan dengan praktek swamedikasi di Kota Bengkulu.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Ananda D. Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Perilaku Swamedikasi Obat Natrium Diklofenak di Apotek. Pharmacy. 2013;10(2):138.
Asseray N, Ballereau F, Trombert-Paviot B, Bouget J, Foucher N, Renaud B, et al. Frequency and severity of adverse drug reactions due to self-medication: A cross-sectional multicentre survey in emergency departments. Drug Saf. 2013;36(12):1159–68
De Sanctis V, Soliman AT, Daar S, Di Maio S, Elalaily R, Fiscina B, et al. Prevalence, attitude and practice of self-medication among adolescents and the paradigm of dysmenorrhea self-care management in different countries. Acta Biomed. 2020;91(1):182–92.
Efayanti E, Susilowati T, Imamah IN. Hubungan Motivasi dengan Perilaku Swamedikasi. J Penelit Perawat Prof. 2019;1(1):21–32.
Faqihi AHMA, Sayed SF. Self-medication practice with analgesics (NSAIDs and acetaminophen), and antibiotics among nursing undergraduates in University College Farasan Campus, Jazan University, KSA. Ann Pharm Fr [Internet]. 2021;79(3):275–85. Available from: https://doi.org/10.1016/j.pharma.2020.10.012
Harahap NA, Khairunnisa K, Tanuwijaya J. Patient knowledge and rationality of self-medication in three pharmacies of Panyabungan City, Indonesia. J Sains Farm Klin. 2017;3(2):186.
Lei X, Jiang H, Liu C, Ferrier A, Mugavin J. Self-medication practice and associated factors among residents in Wuhan, China. Int J Environ Res Public Health. 2018;15(1).
Mathewos T, Daka K, Bitew S, Daka D. Self-medication practice and associated factors among adults in Wolaita Soddo town, Southern Ethiopia. Int J Infect Control. 2021;17(1):1–8.
Montastruc J-L, Bondon-Guitton E, Abadie D, Lacroix I, Berreni A, Pugnet G, et al. Pharmacovigilance, risks and adverse effects of self-medication. Therapies. 2016;71(2):257–62.
Muharni S, Aryani F, Mizanni M. Profile of Drug Information Given By Pharmacist Staff On Self Medication At The Pharmacy Located at Tampan, Pekanbaru-Indonesia. J Sains Farm Klin [Internet]. 2015;2(1):47–53. Available from: http://jsfkonline.org/index.php/jsfk/article/view/46
Niroomand N, Bayati M, Seif M, Delavari S, Delavari S. Self-medication Pattern and Prevalence Among Iranian Medical Sciences Students. Curr Drug Saf. 2019;15(1):45–52.
Rusli SU. Tingkat Pengetahuan Masyarakat Terhadap Pengobatan Sendiri (Swamedikasi) Di Tiga Apotek Kota Makassar. J Farm Sandi Karsa [Internet]. 2018;IV(6):31–5. Available from: http://jurnal.farmasisandikarsa.ac.id/ojs/index.php/JFS/article/download/10/8
Sholiha S, Fadholah A, Artanti LO. Sulfiatus. Pharm J Islam Pharm. 2019;3(2):1–11.
World Health Organization. The Role of the pharmacist in self-care and self-medication: report of the 4th WHO Consultative Group on the Role of the Pharmacist, The Hague, The Netherlands, 26-28 August 1998. In The Role of the pharmacist in self-care and self-medication: report of t. 1998.
Widayati A. Swamedikasi di Kalangan Masyarakat Perkotaan di Kota Yogyakarta Self-Medication among Urban Population in Yogyakarta. J Farm Klin Indones [Internet]. 2013;2(4):145–52. Available from: https://repository.usd.ac.id/8909/1/Naskah_Swamedikasi Di Kalangan Masyarakat Perkotaan_2013.pdf
Published
2022-10-19
How to Cite
SUSILO, A., & MEINISASTI, R. (2022). ANALISA PRAKTIK SWAMEDIKASI DI KOTA BENGKULU. Journal of Nursing and Public Health, 10(2), 242-254. https://doi.org/10.37676/jnph.v10i2.3203
Section
Articles