ANALISIS KADAR INDEKS ERITROSIT PADA PENDERITA TUBERKULOSIS YANG MENJALANI PENGOBATAN DENGAN OAT DI KOTA BENGKULU

  • GUNTUR BARUARA PROGRAM STUDI DIII TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS, JURUSAN ANALIS KESEHATAN, POLTEKKES KEMENKES BENGKULU
  • AVRILYA IQORANNY SUSILO PROGRAM STUDI DIII FARMASI, JURUSAN ANALIS KESEHATAN, POLTEKKES KEMENKES BENGKULU
Keywords: Tuberkulosis, Indeks Eritrosit, OAT

Abstract

Pendahuluan: Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan menjadi masalah kesehatan global, termasuk di Indonesia. Pengobatan TB menggunakan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) diketahui dapat mempengaruhi parameter hematologi, yaitu Isoniazid, Rifampisin, Etambutol, Pirazinamid, dan Streptomisin. Morfologi eritrosit dan termasuk indeks eritrosit yang berperan penting dalam evaluasi anemia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kadar indeks eritrosit pada penderita TB yang menjalani pengobatan dengan OAT di Kota Bengkulu. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif cross sectional dengan sampel sebanyak 30 penderita TB yang sedang menjalani pengobatan OAT. Data kadar indeks eritrosit diperoleh melalui pemeriksaan menggunakan alat hematologi diff 5 dan dianalisis secara deskriptif. Hasil dan Pembahasan: Penelitian menunjukkan rerata kadar MCV 100,42 fL, MCH 31,08 pg, dan MCHC 30,04 g/dL. Sebagian besar responden memiliki MCV tinggi (80%), MCH normal (70%), dan MCHC rendah (53,3%). Berdasarkan fase pengobatan, terjadi peningkatan kadar MCV dan MCH pada fase lanjutan, sedangkan MCHC cenderung menurun. Hasil ini menunjukkan bahwa kombinasi OAT dapat menyebabkan perubahan morfologi eritrosit melalui efek terhadap metabolisme vitamin B12, folat, dan hemoglobin yang tercermin dari perubahan indeks eritrosit responden. Kesimpulan: Penderita TB yang menjalani pengobata OAT mengalami perubahan indeks eritrosit yang mencerminkan adanya pengaruh pengobatan terhadap status hematologi responden.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Acikayudia A. Gambaran Indeks Eritrosit Pada Sopir Bus Jurusan Penggaron-Mangkang Di Terminal Penggaron Semarang. Univ Muhammadiyah Semarang. 2019;
Alamlih L, Albakri M, Ibrahim WH, Khan A, Khan FY. Hematologic Characteristics of Patients with Active Pulmonary, Extra-Pulmonary and Disseminated Tuberculosis: A Study of over Six Hundred Patients. J Tuberc Res. 2020;08(02):33–41.
Aliviameita A, Puspitasari. Buku Ajar Hematology. Sartika SB, Multazam MT, editors. Vol. 2015, Revue Francophone des Laboratoires. UMSIDA Press; 2019. 1–53 p.
Arianda D. Buku Saku Analis Kesehatan Revisi Ke-7. Putri C, editor. Bekasi: AM-Publishing; 2019. 1–120 p.
Arika W, Nyamai DW, Ndile MM, Ngugi MP. Hematological Markers of In Vivo Toxicity. J Hematol Thromboembolic Dis. 2016;4(2).
Barzegari S, Afshari M, Movahednia M, Moosazadeh M. Prevalence of Anemia Among Patients With Tuberculosis: A Systematic Review and Meta-Analysis. PubMed. 2019;66(2):299–307.
Bengkulu DKP. Profil Kesehatan Provinsi Bengkulu Tahun 2015. Bengkulu; 2016.
Darmawansyah, Wulandari. Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Kejadian Tb Paru Di Wilayah Kerja Puskesmas Padang Serai Kota Bengkulu. J Nurs Public Heal. 2021;9(2):18–22.
Erikardo O. Modul Praktikum Hematologi Dasar. Jakarta; 2023.
Firdayanti, Susanti, Nurmina. Profil Hematologi Penanda Anemia Pada Penderita Tuberkulosis Dengan Pengobatan Di Puskesmas Puuwatu Kota Kendari. J Nurs Heal. 2024;9(2):203–10.
Gelaw Y, Getaneh Z, Melku M. Anemia As a Risk Factor For Tuberculosis: A Systematic Review and Meta-Analysis. Environ Health Prev Med. 2021;26(13):1–15.
Gita CRN, Mardina V. Pemeriksaan Jumlah Leukosit, Laju Endap Darah Dan Bakteri Tahan Asam (BTA) Pada Pasien Penyakit Tuberculosis Paru Di Rsud Langsa. J Biol Samudra. 2019;1(2):6–15.
Hutauruk D. Gambaran Nilai Hematokrit Pasien Tuberculosis Yang Mendapat Pengobatan Obat Anti Tuberculosis (Oat) Di Puskesmas Raya Pematangsiantar. J Anal Kesehat Klin Sains. 2021;9(1):36–46.
Kirwan DE, Chong DLW, Friedland JS. Platelet Activation and the Immune Response to Tuberculosis. Front Immunol. 2021;12:1–11.
Nurjana MA. Faktor Risiko Terjadinya Tuberculosis Paru Usia Produktif (15-49 Tahun) Di Indonesia. Media Litbangkes. 2015;25(3):165–70.
Pongsimpin I, Sunaidi Y, Taufiq N. Perbandingan Indeks Eritrosit Pada Penderita Tuberkulosis yang Menjalani Pengobatan Fase Awal dan Fase Lanjutan Sebagai Monitoring Risiko Anemia. J Anal Kesehat Kendari. 2024;7(1):22–9.
Sampath P, Moideen K, Ranganathan UD, Bethunaickan R. Monocyte Subsets: Phenotypes and Function in Tuberculosis Infection. Front Immunol. 2018;9.
Santosa B, Anggraini H, Mawarni ID, Muliatun N, Nugroho A, Syarah U, et al. Erythrocyte index of residents exposed to lead in Tambaklorok, Semarang, Indonesia. J Teknol Lab. 2020;9(2):151–8.
Susanto ZA, Marsudi LO, Sulastri N. Pemeriksaan Indeks Eritrosit Menggunakan Alat Mindray Bc-5150 Di Laboratorium RSUD AWS. J Teknol Lab Med Borneo [Internet]. 2022;2(1):69–73. Available from: http://www.jurnal.itkeswhs.ac.id/index.php/mlt/article/view/1073/361
Published
2026-04-14
How to Cite
BARUARA, G., & SUSILO, A. (2026). ANALISIS KADAR INDEKS ERITROSIT PADA PENDERITA TUBERKULOSIS YANG MENJALANI PENGOBATAN DENGAN OAT DI KOTA BENGKULU. Journal of Nursing and Public Health, 14(1), 67-74. Retrieved from https://jurnal.unived.ac.id/index.php/jnph/article/view/11487
Section
Articles